Indo Warta: Berbagi Kisah
Tampilkan postingan dengan label Berbagi Kisah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Berbagi Kisah. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Juli 2019

Kisah Wanita Pertama Yang Masuk Sorga


Suatu hari putri Nabi SAW. Fatimah Az Zahra ra. bertanya kepada Rasulullah SAW., siapakah wanita pertama yang memasuki surga setelahUmmahatul Mukminin setelah istri-istri Nabi SAW.? Rasulullah bersabda: Dialah Mutiah.

Berhari-hari Fatimah Az Zahra berkeliling kota Madinah untuk mencari tahu keberadaan siapa Mutiah itu dan dimana wanita yang dikatakan oleh Nabi SAW. itu tinggal. Alhamdulillah dari informasi yang didapatkannya, Fatimah mengetahui keberadaan dan tempat tinggal Mutiah di pinggiran kota Madinah.

Atas ijin suaminya Ali bin Abi Thalib, maka Fatimah Az Zahra dengan mengajak Hasan putranya untuk bersilaturahmi ke rumah Mutiah pada pagi hari. Sesampainya di rumah Mutiah, maka Fatimah yang sudah tidak sabar segera mengetuk pintu rumah Mutiah dengan mengucapkan salam.

“Assalaamu’alaikum ya ahlil bait.” Dari dalam rumah terdengar jawaban seorang wanita, “Wa’alaikassalaam … siapakah diluar?” lanjutnya bertanya. Fatimah menjawab, “Saya Fatimah putri Muhammad SAW.” Mutiah menjawab, “Alhamdulillah, hari ini rumahku dikunjungi putri Nabi junjungan alam semesta.”

Segera Mutiah membuka sedikit pintu rumahnya, dan ketika Mutiah melihat Fatimah membawa putra laki-lakinya yang masih kecil (dalam riwayat masih berumur 5 tahun). Maka Mutiah kembali menutup pintu rumahnya kembali, terkagetlah Fatimah dan bertanyalah putri Nabi SAW kepada Mutiah dari balik pintu.

“Ada apa gerangan wahai Mutiah? Kenapa engkau menutup kembali pintu rumahmu? Apakah engkau tidak mengijinkan aku untuk mengunjungi dan bersilaturahim kepadamu?”

Mutiah dari balik pintu rumahnya menjawab, “Wahai putri Nabi, bukannya aku tidak mau menerimamu di rumahku. Akan tetapi keberadaanmu bersama dengan anak laki-lakimu Hasan, yang menurut ajaran Rasulullah tidak membolehkan seorang istri untuk memasukkan laki-laki ke rumahnya ketika suaminya tidak ada di rumah dan tanpa ijin suaminya. Walaupun anakmu Hasan masih kecil, tetapi aku belum meminta ijin kepada suamiku dan suamiku saat ini tidak berada dirumah. Kembalilah besok biar aku nanti meminta ijin terlebih dahulu kepada suamiku.”

Tersentaklah Fatimah Az-Zahra mendengarkan kata-kata wanita mulia ini, bahwa argumentasi Mutiah memang benar seperti yang diajarkan ayahnya Rasulullah SAW. Akhirnya Fatimah pulang dengan hati yang bergejolak dan merencanakan akan kembali besok hari.

Pada hari berikutnya ketika Fatimah akan berangkat ke rumah Mutiah, Husein adik Hasan rewel tidak mau ditinggal dan merengek minta ikut ibunya. Hingga akhirnya Fatimah mengajak kedua putranya Hasan dan Husein. Dengan berpikir bahwa Mutiah sudah meminta ijin kepada suaminya atas keberadaannya dengan membawa Hasan, sehingga kalau dia membawa Husein sekaligus maka hal itu sudah termasuk ijin yang diberikan kepada Hasan karena Husein berusia lebih kecil dan adik dari Hasan.

Namun ketika berada didepan rumah Mutiah, maka kejadian pada hari pertama terulang kembali. Mutiah mengatakan bahwa ijin yang diberikan oleh suaminya hanya untuk Hasan, akan tetapi untuk Husein Mutiah belum meminta ijin suaminya.

Semakin galau hati Fatimah, memikirkan begitu mulianya wanita ini menjunjung tinggi ajaran Rasulullah SAW. dan begitu tunduk dan tawaddu’ kepada suaminya.

Pada hari yang ketiga, kembali Fatimah bersama kedua anaknya datang ke rumah Mutiah pada sore hari. Namun kembali Fatimah mendapati kejadian yang mencengangkan, dia terkagum. Mutiah didapati sedang berdandan sangat rapi dan menggunakan pakaian terbaik yang dipunyai dengan bau yang harum, sehingga Mutiah terlihat sangat mempesona.



Dalam kondisi seperti itu, Mutiah mengatakan kepada Fatimah bahwa suaminya sebentar lagi akan pulang kerja dan dia sedang bersiap-siap menyambutnya. Subhanallah, kita merindukan istri yang demikian. Yaitu ketika suami pulang kerja dia berusaha menyambutnya dengan kondisi sudah mandi, sudah berdandan, sudah memakai pakaian yang bagus, dan siap menyambut kedatangan suami di halaman rumah dengan senyuman terindah penuh kasih dan sayang. Ya Allah, jadikanlah istri-istri kami seperti Mutiah.

Akhirnya Fatimah pulang kembali dengan kekaguman yang tak terperi kepada Mutiah. Dan pada hari yang keempat, Fatimah datang kembali ke rumah Mutiah lebih sore dan berharap bahwa suaminya sudah berada di rumah atau sudah pulang dari kerja. Dan Alhamdulillah memang pada saat Fatimah datang, suami Mutiah baru saja sampai di rumah pulang dari kerja.

Fatimah dan kedua anaknya Hasan dan Husein dipersilahkan masuk oleh Mutiah dan suaminya ke rumahnya. Fatimah melihat sebuah pemandangan yang jauh lebih mengesankan dibanding dengan yang dihadapinya sejak hari pertama. Mutiah sudah menyiapkan baju ganti yang bersih untuk suaminya, sambil menuntun suaminya ke kamar mandi. Mutiah terlihat mulai melepaskan baju suaminya, dan mereka berdua hilang masuk ke bilik kamar mandi. Dan yang dilakukan oleh Mutiah adalah memandikan suaminya. Subhanallah… Tsumma Subhanallah.

Selesai memandikan suaminya, Fatimah menyaksikan Mutiah menuntun suaminya menuju ke tempat makan. Dan suaminya sudah disiapkan makanan dan minuman yang dimasaknya seharian. Sebelum memakan makanan yang sudah disiapkan, Mutiah masuk ke dalam rumah dan keluar dengan membawa cambuk sepanjang 2 meter dan diberikan kepada suaminya dengan mengatakan.

“Wahai suamiku, seharian aku telah membuat makanan dan minuman yang ada didepanmu. Sekiranya engkau tidak menyukai dan tidak berkenan atas masakan yang aku buat, maka cambuklah diriku.”

Tanpa bertanya apa-apa, Fatimah sudah memahami apa yang dikatakan oleh ayahnya Rasulullah SAW. tentang wanita pertama penghuni surga setelah para istri Nabi yaitu Mutiah.

Fatimah pulang menangis haru dan bahagia karena sudah mendapatkan jawaban bagaimana istri yang sholihah. Seperti yang ada pada diri Mutiah, yang mendapatkan kehormatan sebagai wanita yang paling dahulu memasuki surga Allah SWT.


Sumber: kisahislamiah.blogspot.com

Taubat Sang Penunggang Kuda Di Tangan Ibnu Mubarak


Ibnu Mubarak rahimahullah dalam kitabnya al-Jihad dari Hasan bin Rabi’ berkata, “Ada seorang penunggang kuda bertopeng dari kaum Muslimin yang keluar. Dia membunuh seorang penunggang kuda dari kelompok musuh yang telah membunuh orang Islam. Maka, kaum Muslimin meneriakkan takbir karena keberaniaannya.Dia langsung menyusup ke kerumuman orang banyak dan tidak ada satu pun orang yang mengenalinya.”
 
Hasan bin Rabi’ berkata, “Akan tetapi aku mengikutinya sampai akhirnya aku memintanya dengan bersumpah pada Allah agar dia membuka topengnya. Aku pun mengenalinya dan ternyata dia adalah Abdullah Ibnu Mubarak.”
 
Aku bertanya kepadanya, “Apakah kamu telah menutup-nutupi dirimu, padahal Allah swt. telah memberikan kemenangan besar lewat “tangan dan keberanianmu?”
 
Dia menjawab,  “Apa yang telah aku lakukan untuk-Nya. Dia Mahatahu atas segala apa pun.”
 
Kemudian ada seorang penunggang kuda dari barisan musuh yang keluar. Ibnu Mubarak segera memanggilnya. Lantas datang waktu shalat, Ibnu Mubarak meminta si penunggang kuda yang musyrik untuk menjauh sedikit karena dia akan melaksanakan shalat dua rakaat. Ketika dia telah menyelesaikan shalatnya, orang musyrik itu berkata kepadanya, “Dan aku pun harus shalat!!”
 
Si penunggang kuda yang musyrik itupun shalat dengan menghadap ke matahari. Ketika dia sujud, Ibnu Mubarak berkata, “Terbetik dalam benakku untuk mengkhianatinya, namun tiba-tiba aku mendengar suara yang aku sendiri tidak dari mana asalnya, ‘…dan penuhilah janji, karena janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya.’ (al-Israa`:  34)
 
Aku pun menjauhi pengkhianatan itu. Ketika si penunggang kuda musyrik itu bertanya kepadaku, “Kenapa kamu bergerak?”
 
Aku menjawab, “Aku ingin mengkhianatimu, akan tetapi aku diperintahkan untuk menjauhinya.”
 
Dia berkata, “Yang memerintahkanmu untuk menjauhi khianat telah memerintahkanku untuk beriman.”
 
Setelah itu si penunggang kuda itu masuk ke dalam barisan orang-orang Islam, si penunggang kuda yang tadinya musyrik kini pindah dari barisan musyrik ke barisan iman dan pasukan pembela kebenaran. Dan begitulah keimanan memperlakukan para pemiliknya dan kita telah menyaksikan bahwa memenuhi janji harus tetap dilakukan baik kepada orang Islam atau kepada non-Islam, dan kita tidak seperti orang-orang Yahudi yang mengatakan, “Tidak ada jalan atas kami bagi orang-orang selain Yahudi.”
 
Ummi adalah orang-orang selain Yahudi yang boleh untuk dikhianati dan boleh memperlakukan apa saja terhadap mereka walaupun hal tersebut dilarang dalam agama Yahudi, mereka bisa melakukan itu. Allah swt. telah mencela perbuatan mereka seperti itu dalam kitab-Nya Al-Qur’anul Karim dan telah memerintahkan kita untuk selalu menepati janji.

Kamis, 11 Juli 2019

Kisah Khansa Binti Amr RA


Tumadhir binti Amr bin Harits, atau lebih dikenal dengan nama Khansa adalah seorang penyair wanita yang cukup terkenal pada masa jahiliah. Ketika Nabi SAW telah berada di Madinah, bersama beberapa orang kaumnya dari kabilah Bani Sulaim, ia datang menghadap beliau untuk memeluk Islam. Ia mempunyai empat orang anak lelaki yang kesemuanya ikut memeluk Islam, dan berhijrah untuk tinggal bersama Nabi SAW di Madinah.

Kemampuan Khansa melantunkan syair cukup dikagumi Rasulullah SAW. Ketika Adi bin Hatim memeluk Islam, ia mengatakan kepada Nabi SAW, bahwa penyair paling ulung adalah Amr al Qais, orang yang paling pemurah adalah Hatim bin Sa’d dan penunggang kuda paling pandai adalah Amr bin Ma’dikarib. Tetapi Nabi SAW bersabda, “Wahai Ibnu Hatim, bukan mereka!! Penyair paling ulung adalah Khansa binti Amr, orang yang paling pemurah adalah Muhammad (Rasulullah SAW), dan orang yang paling pandai menunggang kuda adalah Ali bin Abu Thalib..!”

Sungguh penghargaan yang sangat tinggi terhadap Khansa, karena beliau ‘mensejajarkan’ namanya dengan nama beliau sendiri dan Ali bin Abu Thalib.

Sejak keislamannya, Khansa tidak hanya bersemangat dalam melantunkan syair, tetapi ia terjun dalam beberapa medanpertempuran, baik ketika bersama Rasulullah SAW ataupun setelah beliau wafat. Dengan syair-syairnya, ia membangkitkan dan membakar semangat para sahabat untuk terus berjuang menegakkan kalimat-kalimat Allah. Terkadang ketika pasukan dilanda kelelahan dan kejenuhan, ia juga melantunkan syair-syairnya sehingga mereka kembali segar dan bersemangat

Ketika terjadi perang Qadisiyah pada tahun 16 H, pada masa khalifah Umar bin Khaththab, Khansa memotivasi anak-anaknya untuk turut serta dalam perang tersebut. Keahliannya bersyair digunakannya untuk mempengaruhidan memberikan semangat jihad pada mereka. Diingatkannya tentang kemuliaan berjuang di jalan Allah, keteguhan ayah dan paman-pamannya dalam membela agama Allah. Sampai akhirnya ia berkata, "Jika besok kalian bangun dalam keadaan sehat, berjihadlah kalian dengan penuh keberanian dan dengan mengharap pertolongan Allah. Majulah dengan semangat juang yang tinggi, dan masuklah dalam pertempuran, lawanlah para pemimpin orang-orang kafir itu, insya Allah kalian akan masuk surga dengan penuh kemuliaan dan kehormatan."

Ucapan-ucapannya tersebut dirangkaikannya dalam sebuah rangkaian syair yang sangat indah, dan amat membekas di hati putra-putranya sehingga semangat mereka begitu menggelora untuk segera terjun dalam pertempuran tersebut. Keesokan harinya, mereka berempat berjuang dengan perkasa melawan pasukan Persia. Mereka bertempur sambil membaca syair-syair ibunya, sampai akhirnya satu persatu mereka menemui syahidnya.

Ketika berita ini disampaikan kepada Khansa, sang ibu yang kehilangan empat putranya tersebut sama sekali tidak bersedih, justru ia bersyukur dan berkata, "Alhamdulillah, Segala Pujian hanya kepada Allah, yang telah memuliakan aku, dengan menjadikan anak-anakku sebagai syuhada’. Semoga dengan syahidnya mereka, dosa-dosaku akan diampuni oleh Allah, dan aku berharap dengan rahmat-Nya, agar bisa dikumpulkan dengan mereka di surga-Nya."Setelah hidup menyendiri, Khansa tetap mengabdikan dirinya membakar semangat kaum muslimin dengan syair-syairnya. Umar sangat menghargai dan selalu memberi santunan kepada Khansa, sebagaimana dahulu Rasulullah SAW melakukannya. Tidak lama setelah Utsman bin Affan menggantikan Umar, Khansa wafat di sebuah perkampungan Badui, yakni pada tahun 24 H.

https://seribusatukisahislami.blogspot.com/2018/07/kisah-khansa-binti-amr-ra.html



Kembali Ke Jalan Alloh Dan Jadilah Penghuni SurgaNya

KEMBALI KE JALAN ALLAH DAN ALLAH MEMASUKKANNYA KE SURGA

Buku-buku sirah dan sejarah selalu menceritakan bahwa ada seorang penggembala mempunyai wajah hitam. Dia menggembala kambing-kambing milik seorang Yahudi di Benteng Khaibar. Penggembala ini datang kepada Rasulullah saw. dan beliau sedang di desa Benteng Khaibar Yahudi. Dia berkata kepada beliau, “Ya Rasulullah, sampaikan kepadaku tentang Islam.”

foto:Islammedia.com

 Beliau menyampaikan Islam kepadanya hingga kemudian orang itu masuk Islam. Kemudian dia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku sekarang ini sedang bekerja kepada pemilik kambing-kambing ini. Ini menjadi amanah bagiku. Apa yang bisa aku perbuat dengan kambing-kambing ini?

 Rasulullah saw. berkata kepadanya, “Pukullah muka kambing-kambing itu, dia akan kembali ke pemiliknya.”

 Kemudian orang itu pun mengambil segenggam kerikil dan melemparnya ke muka kambing-kambing itu sambil berkata, “Kembalilah ke pemilikmu.”
 
Kambing-kambing itu pun keluar semua seakan ada yang menggiringnya sampai akhirnya masuk ke Benteng.
    Si penggembala tadi datang dan maju untuk berperang bersama tentara umat Islam dan dia terkena lemparan sebuah batu hingga meninggal. Padahal, dia belum pernah melaksanakan shalat satu rakaat pun.

Jenazahnya dibawa kepada Rasulullah saw. dan diletakkan di samping beliau. Beliau saw. menutupinya dengan baju jubah yang beliau kenakan. Beliau memperhatikannya dan bersama beliau beberapa orang dari para sahabat, kemudian beliau berpaling darinya.

Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau berpaling darinya?”
 
Beliau menjawab, “Sesungguhnya sekarang ini dia sedang bersama istrinya dari para bidadari yang membersihkan debu-debu dari wajahnya.”

Sesungguhnya ini adalah kejujuran bersama Allah yang telah menjadikan penggembala yang bermuka hitam ini menerima derajat dan kedudukan seperti ini.  /kisah islami

Wasiat Ubadah bin Shamit



Ubadah bin Muhammad bin Ubadah berkata, “Di saat Ubadah bin Shamit menghadapi sakaratul maut, dia berkata, ‘Bawalah aku ke ruang depan.’ Kemudian dia berkata, ‘Kumpulkan semua para pelayan, tetangga, dan semua orang yang pernah berkunjung kepadaku.’ Setelah mereka semua dikumpulkan, dia berkata, ‘Sesungguhnya firasatku mengatakan bahwa ini adalah hari terakhir bagiku di dunia ini dan nanti adalah malam pertama bagiku di akhirat.

Aku tak tahu barangkali aku pernah bersalah kepada kalian, baik dengan perbuatan maupun perkataan. Demi Zat yang diri Ubadah ada di tangan-Nya, aku meminta kalian untuk meng-qishash-ku dan aku berharap sekali kepada setiap kalian yang pernah aku zalimi untuk meng-qishash-ku sebelum ruhku dicabut.’”

Mereka berkata, “Bahkan kamu adalah seorang ayah dan pendidik yang baik.” (Perawi kisah mengatakan, ‘Ubadah tak pernah sekalipun mengatakan hal yang buruk kepada pembantunya’).
Ubadah berkata, “Apakah kalian bersedia memaafkan semuanya?”
Mereka menjawab, “Ya.”

Ubadah berkata, “Ya Allah, saksikanlah. Sekarang peliharalah wasiatku, ‘Aku tidak ingin ada di antara kalian yang menangis. Jika ruhku sudah dicabut berwudhulah kalian dan sempurnakanlah wudhu kalian, kemudian pergilah ke masjid lalu shalatlah, kemudian mintakanlah ampunan untuk Ubadah dan untuk dirinya sendiri, karena Allah swt. berfirman,
KHAT

“Dan mohonlah pertolongan (kepada Allah) dengan sabar dan shalat….” (al-Baqarah: 45). Kemudian bawalah jasadku segera ke kuburan dan jangan iringi aku dengan api.” -kisahislami

Hijab dan Cara Berhijab Modern yang Simple



Banyak orang yang memilih jalan berhijab dengan cara menggunakan jilbab, sehingga mereka dapat menutup aurat meski harus tampil di dunia entertaint. Hijab sudah sering dibahas dan diceramahkan para ustaz kondang, namun sayang masih banyak yang belum memahami Hakikat Hijab yang benar. Contohnya ketika ada yang menganggap cukup dengan jilbab atau kerudung dia telah berhijab, sementara dalam kesehariannya ia hidup dalam pergaulan bebas.

Hijab tidak semata ditujukan bagi kaum wanita, kaum pria pun harus memiliki kesadaran untuk berhijab. Namun titik penekanan memang sering pada kaum hawa karena mereka adalah makhluk indah nan mulia yang harus dijaga dan dihormati. Hal inilah yang kemudian timbul anggapan wanita berhijab cukup dengan mengenakan jilbab.

Sementara kita tahu jilbab / kerudung adalah pakaian yang digunakan untuk menutup aurat kaum hawa, agar mereka lebih terjaga dan mudah dikenali sebagai Muslimah. Sebagaimana Allah berfirman, "Hai Nabi, katakanlah kepada isteri-isterimu, anak-anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin: "Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka". Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak di ganggu. Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Ahzab: 59)

Dari ayat tersebut jelas perintah Allah agar setiap Muslimah mengenakan jilbab untuk menutup aurat, namun belum tentu dapat dikatakan telah berhijab apabila dirinya masih tidak mampu membedakan mana yang muhrim dan mana yang bukan. Sehingga dalam bergaul masih sering melakukan ikhtilat (bercampur baur dengan lawan jenis) atau kholwat (berdua-duaan dengan bukan muhrim).

Arti hijab dan Gambar Cara Berhijab

Apa itu Hijab?
Di beberapa negara Islam dan pendapat banyak ulama bahwa makna hijab adalah cara berpakaian Muslimah yang sesuai dengan tuntunan agama. Namun arti sesungguhnya berdasarkan asal bahasanya yakni dalam bahasa Arab berarti penghalang. Dengan kata lain, hijab merupakan sesuatu yang dapat menjadi penghalang dan pemisah antara lawan jenis yang bukan muhrimnya.

Dalam sholat kita sering menggunakan hijab untuk memisahkan antara shaf pria dan shaf wanita, dalam berinteraksi lawan jenis yang bukan muhrim kita dapat menjaga hijab dengan menjaga pandangan agar tidak menimbulkan fitnah, dan berkerudung adalah salah satu cara agar seorang wanita terhalangi oleh buasnya pergaulan bebas yang mengumbar aurat.

Hakikat Hijab dan Cara Berhijab Modern yang Simple

Zaman modern ini memang cukup sulit menerapkan hijab dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi sebagian orang sibuk dengan karirnya. Mereka yang berkarir sangat sering bertemu dan berada di tempat-tempat umum sehingga sulit untuk menjaga hijab. Bahkan, beberapa wanita berkerudung yang katanya telah berhijab rela membuka kerudungnya demi profesionalisme karirnya.

Bagi sobat yang telah berazam untuk terus berhijab baik itu pria atau wanita, ada cara sederhana yang dapat dilakukan untuk menjaga hijab. Cara Berhijab Modern yang Simple adalah dengan menjaga hati dan menundukkan pandangan.

Menjaga hati akan mengantarkan seseorang terbiasa menahan nafsunya ketika godaan syetan menerjang. Orang-orang yang suci hatinya tidak akan memper-turut nafsu dan emosinya sehingga dirinya terbebas dari tipu daya dunia. Sedangkan menundukkan pandangan adalah perintah Allah SWT, ini ayat-Nya untuk kaum pria, "Katakanlah kepada laki-laki yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu lebih suci bagi mereka. Sungguh, Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat." (QS.An-Nuur: 30)

Dan ini untuk kaum wanita, "Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kudung kedadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara laki-laki mereka, atau putera-putera saudara lelaki mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita islam, atau budak-budak yang mereka miliki, atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan (terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita. Dan janganlah mereka memukulkan kakinyua agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung."(QS.An-Nuur: 31)

Larangan Meniup Air Panas Sebelum Diminum



Larangan Meniup Air Panas Sebelum Diminum. Sebagai seorang Muslim, Rasulullah SAW merupakan suri tauladan utama yang harus diikuti akhlak dan tradisi hidupnya. Salah satu hal penting yang harus dijaga adalah larangan Rasulullah untuk meniup air panas yang hendak diminum. Salah satu hadis Beliau menjelaskan bahwa Nabi SAW dengan tegas melarang para sahabat yang meniup air sebelum meminumnya. (Lihat HR. At-Tirmidzi).

Sudah barang tentu air yang ditiup adalah air panas, karena tidak mungkin kita meniup air dingin sebelum diminum. Sudah menjadi kebiasaan banyak orang jika hendak minum air panas semisal teh manis atau kopi, mereka akan meniupnya dengan harapan untuk mendinginkan atau paling tidak menghangatkan minuman tersebut. Padahal sebenarnya apa yang dilakukan sangat berbahay bagi kesehatannya terutama dapat mengganggu kinerja jantung. Baca juga artikel tentang Larangan Tidur Setelah Shalat Shubuh.

Saya sempat membaca postingan di sebuah akun GooglePlus yang menyebutkan ada penelitian terkait air panas (H2O) yang bertemu karbondioksida (CO2) yang berasal dari hembusan mulut manusia, maka akan menghasilkan persenyawaan H2CO3 atau asam karbonat. Dan jika asam karbonat ini masuk ke dalam tubuh manusia sangat rentan mengakibatkan penyakit jantung.

Terkait kebenaran penelitian tersebut tentu menjadi PR kita bersama untuk membuktikan, namun yang terpenting adalah upaya kita untuk menunaikan sunnah Rasulullah SAW yang sudah barang tentu ada manfaatnya. Banyak cara mendinginkan minuman panas, boleh dengan di letakkan di piring atau dibiarkan beberapa saat sebelum kita menikmatinya hangat-hangat.

Demikian postingan terkait Larangan Meniup Air Panas Sebelum Diminum sebagaimana pesan Rasulullah sang manusia terbaik sepanjang zaman. Semoga dengan ini kita dapat saling menjaga diri dan keluarga dari bahaya penyakit jantung akibat kebiasaan buruk meniup air panas sebelum meminumnya. Wallahu 'alam....

Rabu, 10 Juli 2019

Menikah Itu Indah





Menikah merupakan jalan hidup yang mulia dan sangat dianjurkan oleh Islam. Banyak tuntunan baik dalam Al-Qur'an maupun hadis yang mendorong setiap umat Islam untuk menunaikan ibadah nikah. Permasalahannya, banyak orang yang masih ragu untuk menikah dan banyak mereka yang telah menikah tetapi berantakan di tengah jalan.

Para pemuda yang belum berani menikah kebanyakan beralasan tentang urusan finasial yang katanya belum memadai. Bukankah Allah telah menjamin setiap hamba-Nya yang menikah maka akan dilipat-gandakan rezekinya. Sedangkan mereka yang gagal dalam mengarungi bahtera rumah tangga selalu menyalahkan takdir. Pertanyaannya, pantaskah menyalahkan Allah sementara pernikahannya tidak didasari cinta karena Allah.

Menikah dalam Islam
Islam telah membuat tuntunan yang proporsional terkait anjuran dan hukum nikah. Anjuran dalam Al-Qur'an salah satunya, “Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil maka (kawinilah) seorang saja.” (QS al-Nisa:3).

Firman Allah yang lain seperti terangkum dalam QS. Ar-Ruum: 21, yang berarti: “Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir."

Dan anjuran Rasulullah terkait menikah sebagaimana beliau bersabda, “Hai kaum muda, barangsiapa di antara kalian ada yang mampu, maka menikahlah. Karena menikah itu lebih menjaga pandangan dan memelihara kehormatan. Dan barangsiapa yang belum mampu maka hendaknya ia berpuasa. Karena puasa itu akan menjadi perisai dari perbuatan keji.” (HR Bukhari-Muslim).
Menikah dalam Islam

Hukum Nikah
Dari penjelasan ayat Al-Qur'an dan Hadis di atas cukup jelas bahwa menikah itu ibadah yang sangat indah dan mesti diprioritaskan ketika sudah mampu. Sedangkan hukum nikah menurut banyak ulama dibedakan menjadi Jaiz (boleh-boleh saja), sunat bagi mereka yang mampu, wajib bagi yang mampu dan khawatir berbuat zina, serta makruh bagi yang tidak / belum mampu.

Malam Nisfu Sya'ban Menurut Hadis Rasulullah SAW




Apa itu Malam Nisfu Sya'ban. Sebentar lagi Ramadhan tiba, yang di awali dengan ritual malam nisfu Sya'ban oleh sebagian umat Muslim di Indonesia. Pertanyaannya, tahukah apa itu malam Nisfu Sya'ban? Bolehkah merayakannya? Postingan berikut akan menjelaskan yang bersumber dari berbagai artikel. Harapannya kita dapat sukses beribadah di bulan Ramadhan tanpa dinodai oleh ritualitas semata. Baca juga artikel menyambut Ramadhan tentang Tutunan Berpuasa Bagi Ibu Hamil.

Menurut Imam Ghazali, Nisfu Sya'ban adalah malam penutupan seluruh catatan amal selama setahun yang lalu.

Malam Nisfu Sya'ban jatuh pada pertengahan bulan Sya'ban atau pada malam ke-15 bulan Sya'ban. Kebanyakan umat Islam memperingati malam ini dengan selamatan dan pembacaan yasin sebanyak tiga kali.

Hadis yang menjelaskan malam Nisfu Sya'ban diriwayatkan Siti Aisyah berkata: " Suatu malam Rasulullah shalat kemudian sujud lama sekali. Kemudian Rasulullah usai shalat beliau Bersabda,"Hai Aisyah kamu tidak dapat bagian, bahwa malam ini adalah malam Nisfu Sya'ban dimana Allah memaafkan segala kesalahan hamabanya." (Riwayat Baihaqi).

Banyak ahli hadis yang berbeda pendapat terkait malam Nisfu Sya'ban karena perawi yang belum dapat dijelaskan secara runtut dan sahih.
Malam Nisfu Sya'ban
By Google
Adapun hadis yang hasan terkait amalan di bulan Sya'ban sebagaimana Rasulullah bersabda, “Ini adalah bulan yang sering dilalaikan banyak orang, bulan antara Rajab dan Ramadhan. Ini adalah bulan dimana amal-amal diangkat menuju Rab semesta alam. Dan saya ingin ketika amal saya diangkat, saya dalam kondisi berpuasa.” (HR. An Nasa’i 2357, Ahmad 21753, Ibnu Abi Syaibah 9765 dan Syuaib Al-Arnauth menilai ‘Sanadnya hasan’).
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done