Indo Warta: Kisah Inspirasi
Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspirasi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kisah Inspirasi. Tampilkan semua postingan

Jumat, 12 Juli 2019

Kisah Penuh Makna Dari Seorang Bapak Tua Di Pinggiran Jalan




Alkisah ada seorang penjual gorengan yang selalu menyisakan buntut singkong goreng yang tak terjual. Dia selalu memberikan sisa gorengan tersebut pada seorang bocah yang sering main di tempatnya mangkal.


Tanpa terasa, sudah lebih dari 20 tahun dia menjalani usahnya itu. Namun tidak ada perubahan yang berarti; usahanya tetap begitu2 saja.

Suatu hari, datang seorang pria membawa mobil mewah, lalu berhenti di depan gerobak gorengannya. Pria itu bertanya, “Ada gorengan buntut singkong, Pak?”

Si tukang gorengan lantas menjawab, “Nggak ada, Mas.”

“Saya kangen sama buntut singkongnya, Pak. Dulu waktu kecil, ketika ayah saya baru meninggal, tidak ada yang membiayai hidup saya. Teman-teman saya mengejek saya karena tidak bisa beli jajanan. Tapi waktu itu, Bapak selalu memberi buntut singkong goreng kepada saya, setiap kali saya main di dekat gerobak bapak,” ujar pria muda itu.

Tukang gorengan terperangah. “Yang saya berikan dulu kan cuma buntut singkong.. Kenapa kamu masih ingat saya?”

“Bapak tidak sekadar memberi buntut singkong, tapi juga sudah memberikan kebahagiaan dan harapan buat saya. Saya mungkin tidak bisa membalas budi baik Bapak. Tapi, saya ingin memberangkatkan Bapak ke Tanah Suci. Semoga Bapak bahagia,” lanjut pria itu.

Si tukang singkong goreng hampir tidak percaya. Hanya sebuah kebaikan/sedekah kecil tapi mendatangkan berkah yang begitu besar!

Rabu, 10 Juli 2019

Hidup Bergelimang Maksiat Dan Mati Dalam Keadaan Taubat

foto: kisah Islami

Sulaiman bin Ayyub berkata, “Aku mendengar Ibad bin Ibad al-Mahlabi berkata bahwa ada seorang raja dari raja Bashrah tekun beribadah kemudian dia condong kepada kehidupan dunia dan kekuasaan. Dia pun membangun sebuah rumah yang tinggi dan megah, kemudian dia memerintahkan untuk menggelar hidangan dengan menyediakan makanan lantas dia mengundang orang-orang.”
 
Mereka yang diundang memasukinya makan dan minum di situ. Mereka memperhatikan bangunan tersebut karena merasa terkagum-kagum dan berdoa untuk hal itu lantas mereka pun pergi.
 
Sulaiman berkata, “Sang raja pun tinggal beberapa hari dan dia tinggalkan urusan rakyatnya, kemudian dia duduk bersama beberapa orang pembantu khususnya seraya berkata, ‘Kalian telah melihat bagaimana kegembiraanku dengan rumahku ini, sampai aku pun berkata kepada diriku sendiri bahwa aku akan membangun untuk setiap anakku rumah seperti ini. Hendaklah kalian tinggal di sini beberapa hari karena aku ingin mendengar pendapat kalian dan aku akan bermusyawarah dengan kalian tentang apa yang aku inginkan membangun rumah untuk anakku.’”
 
Mereka tinggal bersama sang raja selama beberapa hari. Mereka di situ bermain dan berhura-hura. Sang raja pun bermusyawarah dengan mereka bagaimana membangun rumah untuk anaknya. Hingga, pada suatu malam ketika mereka sedang asyik bermain, tiba-tiba mereka mendengar suara orang yang memanggil dari pojok rumah seraya melantunkan bait syair,
 
Wahai orang yang sedang membangun rumah
dan itu memang harapan bagi setiap manusia.
    Janganlah kalian terlalu berangan-angan karena sesungguhnya
kematian itu adalah sesuatu yang pasti datangnya.
    Kepada setiap makhluk apakah mereka
dalam keadaan gembira dan senang.
    Kematian pasti datang dan akan memusnahkan k
einginan dan angan-angan.
 
Janganlah kalian membangun rumah yang tidak kalian tempati.
 
Kembalilah melakukan ibadah dan Allah pasti mengampuni segala dosa.
 
Sang raja pun kaget dengan hal itu. Begitu pula para pembantu dekatnya. Dia segera menceritakan kepada mereka apa yang mereka dengar seraya bertanya kepada pembantu dekatnya, “Apakah kalian mendengar apa yang aku dengar?”
 
Mereka menjawab, “Ya, kami mendengar.”
 
Sang raja memerintahkan untuk membuang semua minuman dan memerintahkan untuk mengeluarkan dan membuang alat-alat mainan seraya berkata, “Ya Allah ya Tuhanku, sesungguhnya aku bersaksi kepada-Mu dan juga kepada mereka yang hadir dari para hamba-Mu bahwa aku bertobat kepada-Mu dari semua dosa-dosaku. Aku merasa menyesal apa yang telah aku lakukan yang telah melampaui selama ini. Hanya kepada-Mu aku memohon agar Engkau membiasakan aku untuk menjadikan nikmat-Mu kepadaku dalam taat kepada-Mu. Jika Engkau mencabut nyawaku agar Engkau mengampuni segala dosa-dosaku sebagai kemuliaan dari-Mu terhadap aku.”
 
Dia terus mengulang-ulangnya seraya berkata, “Mati dan demi Allah, sampai akhirnya ruhnya keluar dari rasa cinta, perasaan dosa, dan harapan mendapat ampunan dari Tuhannya.” (hambah Alloh)

Antara Seorang Arab Badui Dan Al Ashma'i

Al-Ashma’i berkata, “Dahulu aku pernah tinggal di kampung untuk mengajrkan Al-Qur’an. Hingga suatu ketika pernah ada seorang Arab badui yang di tangannya ada sebilah pedang untuk menyamun. Ketika mendekat kepadaku untuk mengambil bajuku dia berkata kepadaku,  ‘Wahai tamuku, apa yang membuat engkau datang ke kampung ini?’

    Aku menjawab, ‘Mengajarkan Al-Qur’an.’
    Dia bertanya, ‘Apa itu Al-Qur’an?’
    Aku menjawab, ‘Kalam (firman) Allah.’
    Dia berkata, ‘Apakah Allah punya firman?’
    Aku menjawab, ‘Ya.’
    Dia berkata, ‘Coba bacakan satu bait firman-Nya itu.’
    Aku membaca, ‘Dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezekimu dan apa yang dijanjikan kepadamu.” (adz-Dzaariyat:  22)
 

Orang Arab badui itu langsung saja membuang pedangnya lantas berkata, ‘Astaghfirullah, ternyata rezekiku ada di langit, kenapa aku mencarinya di bumi?’
 
Kemudian setelah satu tahun, aku berjumpa lagi dengan orang itu pada saat melaksanakan thawaf di Ka’bah, dia berkata, ‘Bukankah aku ini temanmu yang dahulu?’
 
Aku menjawab, ‘Benar.’
 
Dia berkata, ‘Tolong bacakan lagi firman Allah yang lainnya.’
    Aku membaca, ‘Maka demi Tuhan langit dan bumi, sungguh, apa yang dijanjikan itu pasti terjadi seperti apa yang kamu ucapkan.’ (adz-Dzaariyaat:  23)
    Dia pun berhenti dan menangis yang membuatnya berkata, ‘Siapa yang melindunginya dari sumpah itu?’
    Dia terus saja mengulang-ulang kata-katanya itu sampai akhirnya dia jatuh dan meninggal dunia.”83
 
Orang Arab badui ini telah memahami ayat tersebut dengan hatinya sebelum dia memahaminya dengan akalnya, sehingga dia sangat meresapinya dan mengamalkannya sampai dia bertemu dengan rahmat Tuhannya. Mahabenar Allah yang telah berfirman dalam kitab-Nya yang mulia, “Dan bertakwalah kalian kepada Allah, Allah akan mengajarkan kalian ilmu.” Dan takwa kepada Allah akan mewariskan ilmu Ladunni.

Kisah Mengharukan, Ibu Dengan Satu Mata

Ibuku hanya memiliki satu mata. Ketika aku tumbuh dewasa, aku membencinya karena hal itu. Aku benci perhatian tak diundang yang aku dapatkan ketika berada di sekolah. Aku benci bagaimana anak-anak lain menatapnya dan memalingkan muka dengan jijik. Ibuku bekerja dengan dua pekerjaan untuk menafkahi keluarga, tetapi aku justru malu dengan keadaannya dan tidak ingin terlihat sedang bersamanya.

Setiap kali ibu saya datang untuk mengunjungi saya di sekolah, rasanya aku ingin dia menghilang. Aku merasakan gelombang kebencian terhadap wanita yang membuat saya menjadi bahan tertawaan sekolah. Pada suatu waktu, ketika aku ingin meluapkan kemarahan ekstrim, aku bahkan pernah mengatakan kepada ibu saya bahwa saya ingin dia mati. Aku benar-benar tidak peduli tentang perasaannya.

Setelah aku tumbuh dewasa, aku melakukan apapun sekuat tenaga untuk menjauhkan diri dari ibuku. Aku belajar dengan keras dan mendapat pekerjaan di luar negeri, jadi aku tidak akan bertemu dengannya. Aku menikah dan mulai membesarkan keluargaku sendiri. Aku sibuk dengan pekerjaan dan keluarga, demi menyediakan kehidupan yang nyaman untuk anak-anakku tercinta. Aku bahkan tidak memikirkan ibuku lagi.

Namun tidak disangka, ibuku datang untuk mengunjungi rumahku pada suatu hari. Wajah bermata satunya membuat anak-anak saya takut, dan mereka mulai menangis. Aku marah pada ibuku karena muncul mendadak dan saya melarang dia masuk. Kemudian aku berkata : “Jangan pernah kembali ke rumah saya dan kehidupan keluarga baru saya..!”. Aku berteriak, tapi ibu saya hanya diam dan meminta maaf, lalu pergi tanpa mampu berkata-kata lagi.

Pada suatu ketika, sebuah undangan untuk reuni sekolah tinggi membawa aku kembali ke kampung halaman setelah puluhan tahun lamanya. Aku tidak bisa menolak berkendara melewati rumah masa kecilku dan mampir ke gubuk tua tersebut. Tetangga saya mengatakan kepadaku bahwa ibuku sudah meninggal dan meninggalkan surat untukku.

Beginilah isi surat ibu :

“Anakku sayang :

Ibu harus memulai surat ini dengan meminta maaf karena telah mengunjungi rumahmu tanpa pemberitahuan dan menakuti anak-anakmu yang cantik. Ibu juga sangat menyesal karena ibu adalah wanita yang memalukan dan sumber penghinaan bagimu, ketika kamu masih kecil sampai tumbuh dewasa.

Ibu sudah mengetahui bahwa kamu pasti akan datang kembali ke kota ini untuk reuni sekolah. Ibu mungkin tidak lagi berada di tempat ini ketika nanti kamu datang, dan ibu pikir itu adalah waktu yang  tepat untuk memberitahumu sebuah insiden yang terjadi ketika kamu masih kecil.

Tahukah kamu, anakku sayang? Kamu mengalami sebuah kecelakaan dan kehilangan satu mata. Ibu sangat terpukul karena terus memikirkan bagaimana nasib anakku apabila anak ibu tercinta tumbuh hanya dengan satu mata. Ibu ingin kamu dapat melihat dunia yang indah dengan sempurna, jadi ibu memberikan padamu sebelah mata ibu.

Anakku sayang, ibu selalu memilikimu dan akan selalu mencintaimu dari lubuk hati ibu yang terdalam. Ibu tidak pernah menyesali keputusan ibu untuk memberikan mata ibu. Dan ibu merasa tenang ketika ibu mampu memberikan kamu kemampuan untuk menikmati hidup yang lengkap.

Dari : Ibumu tersayang.”

Setelah membaca surat dari ibu, air mataku menetes. Aku sangat menyesal. Diriku selalu menyalahkan diriku sendiri, mengapa dulu aku tidak pernah sedikitpun bersikap baik pada ibu. Aku bahkan tega menghilangkan dirinya dari kehidupanku, padahal ibu selalu ada untuk membantuku.

Pesan Moral : Jangan pernah anda menyakiti perasaan orang tua. Karena anda tidak pernah tahu apa saja yang telah dilakukan oleh orang tua anda sehingga anda bisa menjadi seperti sekarang. Dan anda tidak akan pernah tahu kapan orang yang anda sayangi akan meninggalkan anda untuk selama-lamanya.    (publisher by: http://successbefore30.co.id/3-cerita-menginspirasi-yang-akan-menyentuh-hati-anda/)

Jumat, 12 Oktober 2018

Mimpi Hasan Al Bashri



Antara Hasan Al-Bashri dan Ibnu Sirin ada rasa sentimen. Keduanya tidak mahu saling menyapa. Setiap kali mendengar orang lain menyambut nama Ibnu Sirin, Hasan Al-Bashri merasa tidak suka : "Jangan sebut nama orang yang berjalan dengan lagak sombong itu di hadapanku," katanya.

Pada suatu malam Hasan Al-Bashri bermimpi seolah-olah ia sedang bertelanjang di kandang binatang sambil membuat sebatang tongkat. Pagi hari ketika ia bangun, ia merasa bingung dengan mimpinya itu. Tiba-tiba ia ingat bahawa Ibnu Sirin yang kurang ia sukai adalah orang yang pandai menafsirkan mimpi.

Merasa malu bertemu sendiri, ia lalu meminta tolong seorang teman dekatnya: "Temui Ibnu Sirin, dan ceritakan mimpiku ini seakan-akan kamu sendiri yang mengalaminya," pesannya. Teman dekat Hasan Al-Bashri itu segera menemui Ibnu Sirin. Begitu selesai menceritakan isi mimpi tersebut, Ibnu Sirin langsung berkata:

"Bilang kepada orang yang mengalami mimpi ini, jangan menanyakannya kepada orang yang berjalan dengan lagak sombong. Kalau berani suruh ia datang sendiri kemari."

Mendengar laporan yang disampaikan temannya ini, Hasan Al-Bashri kesal. Ia bingung, dan merasa tercabar. Setelah berfikir sejenak, akhirnya ia memutuskan untuk bertemu langsung dengan Ibnu Sirin. Ia tidak peduli dengan rasa malu atau gengsi.

"Antarkan aku ke sana," katanya. Begitu melihat kedatangan Hasan Al-Bashri, Ibnu Sirin menyambutnya dengan baik. Setelah saling mengucap salam dan berjabat tangan, masing-masing lalu mengambil tempat duduk yang agak berjauhan.

"Sudahlah, kita tidak usah berbasa-basi. Langsung saja, aku bingung memikirkan dan menafsirkan sebuah mimpi," kata Hasan Al-Bashri.

"Jangan bingung," kata Ibnu Sirin." Telanjang dalam mimpimu itu adalah ketelanjangan dunia. Ertinya, engkau sama sekali tidak bergantung padanya kerana engkau memang orang yang zuhud. Kandang binatang adalah lambang dunia yang fana itu sendiri. Engkau telah melihat dengan jelas keadaan yang sebenarnya. Sedangkan sebatang tongkat yang engkau buat itu adalah lambang hikmah yang anda katakan, dan mendatangkan manfaat bagi ramai orang."

Sesaat Hasan Al-Bashri terkesima. Ia kagum pada kehebatan Ibnu Sirin sebagai ahli tafsir mimpi, dan percaya sekali pada penjelasannya.

"Tetapi bagaimana engkau tahu kalau aku yang mengalami mimpi itu?" tanya Hasan Al-Bashri.

"Ketika teman engkau menceritakan mimpi tersebut kepadaku, aku berfikir, menurutku, hanya engkau yang layak mengalaminya." jawab Ibnu Sirin.

Sumber : Kitab Wafyat al-A'yan oleh al-Shafadi (https://seribusatukisahislami.blogspot.com/2018/08/mimpi-hasan-al-bashri.html)



Senin, 13 Agustus 2018

Kisah Perjalanan Ustadz Felix Y.Siauw Menemukan Iman Islam


Felix Y Siauw seorang inspirator Islami, pengisi acara inspirasi iman TVRI sekaligus penulis buku best seller berbagi kisah perjalanan rohaninya dalam menemukan iman dan islam dihadapan ribuan jemaah dalam Tabligh Akbar bertema 'Menemukan Islam, Menebar Dakwah' di Majid Jogokariyan Yogyakarta, Minggu (30/11/2014).

Berasal dari keluarga non Islam, Felix merasa gundah terhadap konsep Tuhan di agamanya dulu. Karena tak menemukan apa yang diinginkan, Felix kemudian mencari tahu dengan mempelajari semua kitab suci agama.

Sebelum menemukan Islam, banyak pertanyaan dalam benaknya tentang eksistensi Tuhan, proses penciptaan manusia dan keberadaan alam semesta (bumi, planet dan galaksi).

Saat memasuki bangku perkuliahan, keinginan untuk menemukan Tuhan yang sesungguhnya semakin kuat. Berawal dari peristiwa pengeboman gedung WTC September 2001, Felix penasaran dengan munculnya nama Osama bin Laden. Dan ketika menyambangi salah satu kos-kosan temannya, ia menemukan nama Bin Laden terpampang di pintu kamar teman tersebut.

 
"Saya saat itu penasaran dan bertanya siapa Osama Bin Laden kepada teman saya," kata Felix. Mulailah dari situ Felix berinteraksi dengan Islam. Ketika berdiskusi, Felix sangat terkejut bahwa agama Islam mengatur segala urusan kehidupan hingga persoalan pergaulan antara pria dan wanita. "Dalam Islam, pergaulan pria dan wanita diatur sangat detail, dan itu tidak ditemukan di agama lain," ujarnya seperti dikutip Krjogjacom.

Felix kemudian diajak oleh temannya bertemu ustad muda bernama Fatih Karim. Disitulah, Felix mulai menemukan apa yang selama ini dicari-cari. Sang Ustad menunjukkan kepada Felix Surat Al-Baqarah ayat 2 yang menjelaskan bahwa Alquran adalah kitab dimana tidak ada sedikitpun keraguan di dalamnya sekaligus petunjuk bagi yang bertakwa.

Ia juga semakin yakin bahwa Alquran adalah perkataan Allah (Kalamullah) yang diwahyukan kepada Rasulullah melalui Malaikat Jibril dengan ditunjukkannya sebuah ayat (Al-Baqarah: 23) yang isinya tentang kebenaran Al-Quran. Dalam ayat itu, Alquran menantang manusia yang mengingkarinya untuk membuat satu ayat yang bisa menyamai Alquran.

"Saya menjadi yakin dengan Islam karena hanya agama Islam lah yang bisa memuaskan akal dan menetramkan hati, dengan bukti-bukti (dalil)," katanya.

Felix kemudian memutuskan untuk bersyahadat dan masuk Islam. Saat melakukan salatnya yang pertama, Felix sangat merasakan ketentraman hati. "Saat sujud, naluri untuk menghamba kepada Allah begitu terpuaskan," katanya. Namun ia menyayangkan, banyak umat muslim yang tidak merasakan seperti yang ia rasakan dalam berislam. [gie/krjogja]

sumber: http://www.islamedia.id/2014/11/perjalanan-felix-y-siauw-menemukan-iman.html

Senin, 30 April 2018

Kisah Penggembala Kambing Berkulit Hitam Dan Rosululloh SAW

Kisah seorang pengembala yang mempunyai wajah hitam karena sering terkena terik sinar matahari Dia menggembala kambing-kambing milik seorang Yahudi di Benteng Khaibar. ,  Suatu hariPenggembala ini datang kepada Rasulullah saw. dan beliau sedang di desa Benteng Khaibar Yahudi. Dia berkata kepada beliau, “Ya Rasulullah, sampaikan kepadaku tentang Islam.”
 
Beliau menyampaikan Islam kepadanya hingga kemudian orang itu masuk Islam. Kemudian dia berkata, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku sekarang ini sedang bekerja kepada pemilik kambing-kambing ini. Ini menjadi amanah bagiku. Apa yang bisa aku perbuat dengan kambing-kambing ini?
 

Rasulullah saw. berkata kepadanya, “Pukulah muka kambing-kambing itu, dia akan kembali ke pemiliknya.”
 
Kemudian orang itu pun mengambil segenggam kerikil dan melemparnya ke muka kambing-kambing itu sambil berkata, “Kembalilah ke pemilikmu.”
 
Kambing-kambing itu pun keluar semua seakan ada yang menggiringnya sampai akhirnya masuk ke Benteng.
 
Suatu ketika,  penggembala tadi datang dan maju untuk berperang bersama tentara umat Islam dan dia terkena lemparan sebuah batu hingga meninggal. Padahal, dia belum pernah melaksanakan shalat satu rakaat pun.
 
Jenazahnya dibawa kepada Rasulullah saw. dan diletakkan di samping beliau. Beliau saw. menutupinya dengan baju jubah yang beliau kenakan. Beliau memperhatikannya dan bersama beliau beberapa orang dari para sahabat, kemudian beliau berpaling darinya.
 
Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, mengapa engkau berpaling darinya?”
 
Beliau menjawab, “Sesungguhnya sekarang ini dia sedang bersama istrinya dari para bidadari yang membersihkan debu-debu dari wajahnya.”
 
Sesungguhnya ini adalah kejujuran bersama Allah yang telah menjadikan penggembala yang bermuka hitam ini menerima derajat dan kedudukan seperti ini. (al-faqir)

Permintaan Doa Seorang Wanita Lumpuh



Ali bin Shararah berkata: "Sudah sejak dua puluh tahun ibuku lumpuh. Suatu hari ia berkata padaku: "Pergilah temui Ahmad bin Hanbal dan mintalah ia untuk mendoakanku."
Aku pergi menuju rumah Ahmad lalu aku ketuk pintunya. Dari dalam rumah Ahmad bertanya: "Siapa di luar?"

Aku menjawab: "Seorang laki-laki dari tempat anu. Ibuku sudah lumpuh dan ia memintaku untuk menemuimu dan memintamu untuk mendoakannya."
Dengan sedikit kesal Ahmad berkata: "Kami yang lebih butuh untuk didoakannya."

Aku pulang dalam keadaan sedih mendengarkan jawaban dari Ahmad bin Hanbal. Tiba-tiba keluarlah seorang wanita tua dari rumah Ahmad bin Hanbal. Wanita itu bertanya: "Engkau yang tadi berbicara dengan Abu Abdillah?"

"Ya," jawabku.
"Tadi aku lihat ia mendoakan ibumu."

Aku segera bergegas menuju rumah. Aku ketuk pintu dan ternyata ibuku sudah bisa berjalan dengan kedua kakinya secara sempurna dan melangkah menuju pintu. Ibuku berkata: "Allah telah mengaruniakan kesembuhan kepadaku."

Begitulah datang kelapangan setelah kesempitan berkat doa Ahmad bin Hanbal rahimahullah. Wanita itu juga seorang yang paham agama dan memiliki iman yang kuat. Ia memulangkan kesembuhan itu kepada Allah, karena doa Ahmad bin Hanbal hanyalah satu faktor dari sekian faktor kesembuhan, tapi yang menyembuhkan tetaplah Allah. Oleh karena itu ia berkata: "Allah telah mengaruniakan kesembuhan kepadaku."

Kamis, 26 April 2018

Kisah Islami: Meninggalnya Sang Khalifah Yang Adil

Marilah kita simak bersama cerita meninggalnya khalifah yang adil Umar ibnu Abdul Aziz r.a. di bawah ini. Adapun cerita ini dinukil dari kitab al-Bidaayah wan nihaayah karangan Ibnu Kastir. Dalam kisah berikut, kita juga dapat melihat bersama bagaimana beliau memimpin pemerintahannya dengan adil setelah dipimpin dengan kekejaman dan ketidak-adilan oleh para pemimpin sebelumnya.


Ibnu Katsir menceritakan, sebagai berikut.

"Khalifah Umar ibnu Abdul Aziz meninggal disebabkan oleh racun yang diberikan oleh salah satu budaknya di dalam makanan atau minumannya dengan imbalan seribu dinar. Karena itu, setelah meminum racun tersebut beliau pun sakit dan setelah diperiksa baru dinyatakan bahwa beliau terkena racun. Kemudian khalifah berkata, "aku ingat hari dimana aku meminum racun tersebut," lantas beliau pun memanggil budaknya yang telah berbuat nista tersebut, seraya berkata, "celakalah kamu, kenapa kamu sampai berani berbuat demikian?" sang budak segera menjawab, "demi seribu dinar yang dijanjikan kepadaku, wahai khalifah" khalifah lanjut berkata, "mana uang itu? berikan, dan taruhlah di baitulmal," beliau melanjutkan kembali, "pergilah kamu agar tidak ada orang yang melihat kamu sehingga kamu tidak celaka." Dengan rasa menyesal, budak tersebut meminta khalifah untuk mengobati dirinya, tetapi khalifah malah berkata, "demi Allah, andai saja kesembuhanku itu harus kutebus dengan sepotong telingaku atau mendatangi dokter maka niscaya aku tidak akan melakukannya."

Budak itu menimpali, "Anda memiliki 12 orang anak. Apakah anda tidak mau memberi wasiat kepada mereka, karena mereka semua orang-orang yang tidak punya?" khalifah dengan tegas menjawab seraya membaca ayat Al-Qur’an yang berbunyi, "Sesungguhnya, pelindungku adalah yang telah menurunkan Al-Kitab (Al-Qur'an) dan Dia melindungi orang-orang yang saleh." (al-A’raaf :196).

"Demi Allah, aku tidak akan memberikan hak orang lain kepada anak-anakku karena mereka sendiri antara dua pribadi; orang yang saleh maka Allah akan menjadi wali orang-orang saleh, ataupun orang yang tidak saleh maka aku tidak akan mau menbantu kefasikan mereka." Dalam versi lain, "aku tidak perduli mereka akan jatuh di jurang mana saja." Versi lain lagi, "apakah aku harus berpesan tentang sesuatu yang dapat membantu mereka untuk bermaksiat kepada Allah maka aku akan dicatat bersekongkol dengan mereka atas apa yang mereka lakukan setelah aku meninggal nanti. Sungguh aku tidak akan melakukan itu." Lalu khalifah memanggil anak-anaknya dengan berpesan dan berwasiat kepada mereka seperti ucapan diatas.

Khalifah lanjut berpesan, "pergilah kalian, semoga Allah menjaga kalian dan berbuatlah yang terbaik pada pemerintahan kalian!"

Ibnu Katsir lanjut bercerita, "kami melihat setelah kejadian tersebut bahwa anak-anak khalifah Umar ibnu Abdul Aziz semuanya membawa 80 kuda untuk berperang di jalan Allah, sedangkan beberapa anak Sulaiman Abdul Malik, meskipun ia banyak meninggalkan harta untuk mereka, tetap meminta-minta kepada anak-anak Umar ibnu Abdul Aziz. Hal itu disebabkan karena Umar dan seluruh anaknya berjuang di jalan Allah, sedang Sulaiman dan para khalifah lainnya memberikan anak-anak mereka harta lalu dihambur-hamburkan semua harta tersebut sampai habis demi melampiaskan nafsu mereka saja."

Ya'qub ibnu Sufyan berkata, "Abu Nu'man meriwayatkan dari Hamad ibnu Zaid dan Ayub, ia berkata, "Umar ibnu Abdul Aziz ditanya, "Wahai Amirul Mu'minin, jika saja anda mau pergi ke Madinah, lalu Allah mencabut nyawa anda, niscaya anda akan dikuburkan bersama Rasulullah saw., Abu Bakar, dan Umar."

Khalifah dengan tukas menjawab, "Demi Allah, aku rela disiksa dengan siksaan apa saja kecuali api neraka dan aku akan tetap sabar untuk itu. Aku juga sangat senang bila aku mendapatkan kehormatan untuk dikubur disana."

Para sahabatnya bercerita, "sakitnya khalifah berupa hilangnya pendengaran sejak dari daerah Hamsh sudah berjalan selama 20 hari. Kemudian, tatkala sakaratul maut datang, sang khalifah berkata, "temanilah aku," maka para sahabatnya menemaninya.

Khalifah lanjut berkata, "wahai Tuhanku, akulah orang yang Engkau titahkan tetapi aku tidak mampu dan Engkau larang tetapi aku bermaksiat," beliau mengulanginya sebanyak tiga kali, kemudian berkata lagi, "akan tetapi aku bersaksi bahwa tiada tuhan kecuali Allah." Kemudian khalifah mengangkat kepalanya dan mulai menatap, para sahabatnya bertanya, "wahai Amirul Mu'minin, kenapa engkau menatap dengan serius!"

Beliau menjawab, "Aku sedang melihat kedatangan sesuatu yang bukan dari golongan jin ataupun manusia," tidak lama kemudian beliau pun meninggal.

Dalam versi lain diceritakan, khalifah berkata kepada keluarganya, "keluarlah kalian!" maka mereka pun keluar. Lalu Maslamah ibnu Abdul Malik dan saudara perempuannya Fatimah duduk di pintu kamar, mereka mendengarkan khalifah berkata, "selamat datang wajah-wajah yang bukan dari golongan jin ataupun manusia," kemudian khalifah membaca ayat, "Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (al-Qashash:83).

Tidak lama kemudian suasana kembali tenang maka para keluarga segera masuk ke dalam kamar dan mendapatkan khalifah sudah terpejam dengan menghadap kiblat dan meninggal.

Al-Mughirah ibnu Hakim bercerita, "aku berkata kepada Fatimah ibnu Abdul Malik bahwa aku mendengar Umar ibnu Abdul Aziz berdoa tatkala ia sedang sakit, "Ya Allah, mudahkanlah untuk mereka urusanku walau sesaat saja!"

Lalu Fatimah menjawab, "aku bertanya kepada khalifah, "apakah aku harus keluar? Padahal anda belum tidur?"

Aku pun keluar dan mendengar khalifah membaca ayat, "Negeri akhirat itu, Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi. Dan kesudahan (yang baik) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa." (al-Qashash: 83) dengan berkali-kali." Kemudian, aku berkeliling di luar kamar sampai lama hingga tidak mendengarnya lagi berbicara, lalu aku berkata kepada Wasif, "celaka!"

"aku menunggu lalu masuk sambil berteriak maka ketika aku masuk kudapati khalifah telah meninggal dengan menghadap kiblat dan meletakkan salah satu tangannya di mulut dan yang lainnya di kedua matanya."   /kisahislami/al-faqir
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done