Indo Warta: Tokoh Islam
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tokoh Islam. Tampilkan semua postingan

Senin, 05 November 2018

Guru, Pejuang, Dan Tokoh Itu Bernama Kyai Hasyim Asy’ari


KH Hasyim Asy’ari dikenal sebagai seorang ulama kharismatik dan guru pejuang. Potensi kepemimpinan yang dimiliki KH. Hsyim Asy’ari, menjadikan dirinya sangat berperan besar dalam memajukan masyarakatnya dan membangkitkan semangat perjuangan dalam menghadapi penjajahan kolonial Belanda. Dunia sosial politik dan kancah perjuangan merupakan bagian aktivitas yang mewarnai kehidupannya. Apalagi setelah mendirikan organisasi Nahdlatul ‘Ulama sebagai perkumpulan ulama untuk menyatukan visi dan misi perjuangan. Di samping juga mencetak kader-kader pejuang melalui pesantren yang telah berbuah manis. Banyak di antara santrinya bergabung dalam barisan perjuangan dalam membebaskan negeri ini.
Riwayat Kelahiran Asyim Asyhari

Hasyim Asy’ari dilahirkan pada tanggal 14 Februari 1871 di Desa Gedang, Kecamatan Diwek, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Hasyim Asyari merupakan putra dari pasangan Kyai Asy’ari dan Halimah. Ayah Hasyim merupakan seorang pemimpin sebuah Pesantren yang berada di sebelah selatan Jombang. Sementara kakeknya Kyai Usman adalah seorang ulama besar pada masanya dan juga sebagai pendiri pesantren Gedang pada akhir abad 19.

Hasyim Asy’ari merupakan anak ketiga dari sepuluh bersaudara. Dalam keluarga besar ini, Hasyim Asy’ari merasakan keharmonisan dan keakraban dengan saudaranya. Karena berasal dari keluarga ulama dan pengasuh pesantren, maka pendidikan Islam yang diterima Hasyim Asy’ari dan saudaranya sangat kental. Beliau dibimbing oleh ayah dan kakeknya di Pesantren Gedang sampai berumur lima tahun. Di pesantren ini, Hasyim Asy’ari mendapat ilmu dasar-dasar Islam dan diamalkan langsung di bawah asuhan ayah dan kakeknya. Sehingga dengan demikian terbentuklah karakter Hasyim Asy’ari sebagai seorang anak yang berakhlak mulia dan kecerdasan yang luar biasa.

Pendidikan Lanjutan Hasyim Asy’ari

Setelah mendapatkan pendidikan dasar dari ayah dan kakeknya, Hasyim Asy’ari melanjutkan pendidikannya pada berbagai pondok pesantren yang terdapat di pulau Jawa, seperti pondok pesantren Langitan, Tuban, Bangkalan dan Sidoarjo. Dari berbagai pesantren ini, beliau bertemu dengan ulama besar sekaligus pengasuh pesantren. Hasyim Asy’ari belajar dengan tekun dan penuh semangat sehingga berbagai disiplin keilmuan dikuasainya dengan baik. Hal inilah yang menyebabkan, gurunya KH. Yakub yang mengasuh pesantren di Sidoarjo, tertarik menjadikan dirinya sebagai menantu untuk anaknya yang bernama Khadijah.
Semangat Hasyim dalam menuntut ilmu membawa dirinya sampai ke tanah suci. Selama di Makkah beliau berguru dengan sejumlah ulama besar dunia. Dari gurunya itu, Hasyim memperoleh banyak ilmu dan wawasan keIslaman. Di antara guru Hasyim adalah Syaikh Mahfudh At Tarmisi yang mengajar dalam ilmu hadits, diwaris. Di samping Syaikh Mahfudh, Hasyim juga menimba ilmu kepada Syaikh Ahmad Khatib Al Minangkabau terutama di bidang tauhid dan ghirah (semangat) kebangkitan. Kepada dua guru besar itu pulalah Kyai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, berguru. Jadi, antara KH Hasyim Asy’ari dan KH Ahmad Dahlan sebenarnya tunggal guru maksudnya belajar pada guru yang sama.
Seperti halnya Ahmad Dahlan, Hasyim juga belajar pemikiran para tokoh-tokoh pembaharu, Muhammad Abduh (pemikir dan ulama Mesir) yang sedang giat-giatnya melancarkan gerakan pembaharuan pemikiran Islam di negerinya. Gerakan pembaharuan ini juga menjadi inspirasi bagi KH Asyim Ashari, untuk menyelamatkan umat melalui pesantren dan madrasah yang beliau dirikan. Asyim Ashari berjuang dan bekerja sekuat tenaga mendidik anak bangsa agar negeri ini bisa merdeka dan lepas dari penjajah.
Kembali Ke Tanah Air berperan Sebagai Guru

Setelah belajar selama 7 tahun mendalami ilmu agama di Kota Makkah, pada Tahun l899 Beliau pulang ke Tanah Air. Hasyim mengajar di pesantren milik kakeknya, Kyai Usman. Kyai Hasyim Asy’ari berusaha memerankan tugas guru secara baik dan maksimal sehingga banyak santri yang senang belajar padanya dan menjadikan beliau sebagai guru idola karena keteladanan yang dipraktekkannya dalam kehidupan sehari-sehari.

Di samping aktivitasnya sebagai seorang guru, Hasyim Asy’ari juga bekerja sebagai seorang petani dan pedagang yang sukses. Tanahnya puluhan hektar. Dua hari dalam seminggu, biasanya Kyai Hasyim istirahat tidak mengajar. Dari usahanya inilah dirinya dapat memenuhi kebutuhan hidup keluarganya, membantu dana untuk perjuangan dan untuk membantu orang miskin atau anak yatim.

Hasyim Asy’ari dikenal sebagai seorang pendidik sejati, karena kesungguhannya dalam melaksanakan tugas guru. Hari-hari yang terindah dalam hidup KH Hasyim Asyhari ketika dirinya dapat membahagiakan orang lain terutama santri dengan berbagi ilmu. Keluasan ilmu dan keluhuran akhlak ulama kharismatik ini, menjadi daya pikat tersendiri bagi para santrinya sehingga mereka sangat akrab dengan Hasyim Asy’ari sebagai gurunya sekaligus ulama penuntun umat.

Hasyim Asy’ari juga ahli dalam mengatur kurikulum pesantren dan mengatur strategi pengajaran.Beliau berpandangan keberhasilan sebuah pendidikan di samping kualitas gurunya juga ditentukan nilai kurikulum dan strategi dan metodologi penyampaian materi pelajaran. Makanya, pada masa itu, banyak pembaharuan yang dilakukan KH Hasyim Asyhari dalam rangka meningkatkan lulusan pesantren yang bermutu.
Mendirikan Organisasi Nahdlatul ‘Ulama

Kiprah besarnya dalam dunia pendidikan dan dakwah adalah ketika KH Hasyim Asy’ari dengan KH Abdul Wahab Hasbullah mendirikan organisas Nahdlatul ‘Ulama pada tahun 1926. Organisasi ini bergerak di bidang dakwah dan pendidikan bahkan kemudian merambah kedunia politik. Sejak awal pendirian organisasi ini KH Hasyim Asy’ari diamanahkan sebagai pemimpin organisasi yang dikenal dengan istilah Rais Akbar.
Sebagai pimpinan organisasi besar, KH Hasyim Asy’ari berusaha melaksanakan amanah dengan sebaik-baiknya. Beliau berusaha melibatkan banyak ulama dalam membesarkan organisasi ini, sehingga keberadaan organisasi dirasakan manfaatnya bagi umat. Melalui Nahdlatul ‘Ulama diharapkan adanya kesamaan visi dan misi ulama dalam membina umat dan membangun negeri. Untuk menyamakan gerak langkah madrasah atau pesantren, maka aktivitas pendidikan ini dinaungi oleh Nahdlatul ‘Ulama. Hasyim Asy’ari berharap melalui madrasah dan pesantren akan melahirkan kader bangsa terutama dalam menghadapi perlawanan terhadap penjajah pada waktu sebelum kemerdekaan.

Pemikiran Pendidikan Hasyim Asy’ari

Gagasan dan pemikiran Hasyim Asy’ari tentang pendidikan diungkapkan dalam bukunya yang berjudul Adabul ‘Alim Wa Muata’alim. Buku ini berisikan tentang etika belajar dan mengajar di dalam pendidikan pesantren pada khususnya. Hasyim Asyari menginginkan agar madrasah atau pesantren dapat menegakkan etika belajar dengan sempurna agar tujuan pendidikan yaitu membentuk lulusan yang baik akan tercapai.
Buku yang fundamental ini terdiri dari delapan bab, di antara bab penting itu adalah, Keutamaan ilmu dan ilmuwan serta keutamaan belajar, Etika yang harus diperhatikan dalam belajar dan mengajar, etika murid pada guru dan guru pada muridnya. Buku ini menjadi rujukan bagi madrasah dan pesantren dalam mengadakan pembaharuan dalam kedua lembaga pendidikan tersebut.
Berjuang Melawan Penjajah

Sebagai ulama kharismatik dan tokoh umat, maka Hasyim Asy’ari mengelorakan semangat perjuangan untuk menentang penjajahan Belanda terutama dikalangan anak muda atau para santri. Beliau mengajak mereka untuk berjihad melawan penjajah dan menolak kerjasama dengan penjajah tersebut. Gerakan perlawanan ini disambut umat untuk membebaskan mereka dari ketertindasan yang menghinakan menuju kemulian yang membahagiakan.

Demikian juga pada masa penjajahan Jepang, beliau tetap giat membangkitkan semangat juang generasi muda dan ikut serta dalam perjuangan pada front terdepan. Hal ini menyebabkan tentara Jepang marah besar dan menangkap Hasyim Asy’ari dan dimasukkan kedalam penjara. Lalu diasingkan ke Mojokerto untuk ditahan bersama-sama dengan pejuang lainnya. Berbulan-bulan lamanya beliau ditahan, namun tidak menyurutkan semangat perjuangannya bahkan justru semakin menambah energi baru dalam merebut kemerdekaan.

Akhir Hayat KH Hasyim Asy’ari

Pada tanggal 25 Juli 1947, (07 Ramadhan 1366 H). pada pukul 03.00 pagi, pejuang besar dan pendidik sejati ini, kembali menemui Tuhannya. Kepergian beliau ketempat peristirahatan terakhir, diantarkan dengan belasungkawa yang amat dalam dari hampir seluruh lapisan masyarakat, terutama dari para pejabat sipil maupun militer, kawan seperjuangan, para ulama, warga NU, dan khususnya para santri Tebuireng. Umat Islam telah kehilangan pemimpin besarnya yang kini berbaring di pusara dalam Pesantren Tebuireng. Ketika kita melihat pusaranya maka tentu akan tergambar betapa agung sosok ulama kharismatik yang telah memberikan sesuatu yang berharga untuk bangsa besar ini. Semoga pemikiran dan perjuangan dilanjutkan generasai berikutnya dalam membangun bangsa ini.
[-dn/is/jon]

Haji Oemar Said Tjokroaminoto - Tokoh Dan Pahlawan


Pilihan yang diambil seorang Tjokroaminoto pada era 1900 an, mau tidak mau harus diakui sebagai sebuah awalan besar yang membuat generasi kini menghirup kemerdekaan di atas tanah airnya sendiri. Pilihan-pilihan Tjokroamonoto yang saat itu dianggap sebagai sebuah perlawanan oleh pihak Belanda, siapa sangka akan benar-benar mengantarkan Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan.

Kejadian-kejadian penyiksaan yang dengan sengaja atau tidak terpampang di depan matanya pada masa itu, membuat Tjokro kecil semakin sadar bahwa ia dan semua warga pribumi sedang dikepung oleh orang-orang Belanda yang jahat. Ia memang mendapat perlakuan yang baik dari mereka mengingat posisi Tjokro adalah anak bangsawan, namun hatinya tidak tega melihat semua kekerasan itu berlanjut terus begitu saja tanpa ada daya dari penguasa setempat untuk mencegahnya. Kesadaran bahwa sesungguhnya ia juga seorang korban semakin kuat merasuk dalam dirinya setelah ia beranjak dewasa.

Saat semua keturunan bangsawan tidak diperhitungkan lagi dalam pemerintahan, ia dan keluarganya diberi keistimewaan khusus, sehingga Tjokroamonoto dapat bekerja menjadi salah satu juru tulis di sebuah perkebunan. Namun lagi-lagi, perlakuan sewenang-wenang dari mandor Belanda tetap menjadi pemandangan harian di tempat kerjanya.

Hingga pada suatu hari, Tjokro memberanikan diri bangkit dan melawan dengan membalas perlakuan mandor Belanda yang seenaknya menyuruh seorang pekerja pribumi untuk memegang teko panas dalam waktu yang lama. Sejak saat itulah Tjokro malah dikeluarkan dari tempat bekerjanya.

Keputusannya untuk menentang memang sudah bergemuruh hebat sejak lama. Namun selama itu ia terus menahan diri. Kejadian pemecatan itu kemudian menjadi titik awal ia memulai hijrahnya. Dengan meninggalkan isteri yang sedang hamil dan rumah tangga yang sedang gonjang-ganjing, ia pamit untuk berhijrah. Pergi ke tempat yang lebih baik lagi. Menemukan jawaban-jawaban atas semua pertanyaan yang selama itu mengusiknya.

Semarang adalah kota pertama yang ia kunjungi. Di sana ia bertemu dengan H. Samanhudi yang merupakan ketua dari Sarekat Dagang Islam. Di sana juga jiwa kepemimpinannya terlihat dan semakin berkilau. Hingga akhirnya ia disarankan oleh H. Samanhudi, pengusaha batik dari Solo, untuk berhijrah ke Surabaya, pintu gerbang jalur pelayaran di Pulau Jawa.

Bersama isteri dan anaknya yang masih kecil, Tjokroamonioto memutuskan untuk benar-benar hijrah. Surabaya menjadi tempat tujuan selanjutnya. Di rumah Peneleh ia mulai semuanya. Target Tjokroamonoto sangat jelas. Hal yang paling awal ia lakukan adalah bergabung dan menginisiasi perkumpulan Sarekat Islam setelah perkumpulan sebelumnya di Semarang,

Sarekat Dagang Islam dibubarkan oleh Belanda. Dari total penduduk Pulau Jawa yang saat itu 30 juta, ada 2 juta yang menjadi anggotanya. Ia berkata bahwa semua perubahan itu harus dimulai dari kemandirian, termasuk dalam kemandirian ekonomi. Rakyat tidak boleh terus menjadi pekerja bagi penguasa Belanda. Rakyat harus memulai perekonomiannya sendiri.

Hal ini dibuktikan dengan mulai bermunculannya koperasi dari tiap perkumpulan yang sudah dibentuk tadi. Koperasi inilah yang kemudian mengakomodir kebutuhan para petani sehingga penghasilan panennya tidak hanya ke tangan Belanda, namun ada sebagian yang masih berputar untuk kebutuhan masyarakat itu sendiri.

Di samping itu, Tjokroaminoto juga mendirikan sebuah badan pers yang mengabarkan segala kegiatan Sarekat Islam dan pergerakan-pergerakan yang sedang dilakukannya. Hijrah yang telah dilakukannya itu, mendatangkan Agus Salim dari Sumatera Barat untuk bergabung karena kesesuaian visi dan misi antara mereka. Nantinya, Agus Salim inilah yang menjadi teman seperjuangn semasa hidupnya dan membantu mengetahui sejauh mana hijrah yang telah mereka lakukan. Baik hijrah secara lahiriyah maupun pemikiran dan batin.

Setelah rakyat dapat mandiri finansial, kemudian dirumuskanlah target perjuangan selanjutnya yaitu pendidikan. Tjokro menyadari betul bahwa pendidikan akan melahirkan orang-orang yang pandai terutama dalam menghadapi Belanda nanti di bidang politik.

Perumusan ini digelar dalam kongres akbar yang meenghadrikan banyak tokoh-tokoh cendekia terkemuka di dalamnya. namun, tidak semua setuju dengan usulan ini. Sebagian peserta kongres menyatakan bahwa yang terpenting saat itu bukan pendidikan namun tanah.

Hal ini karena banyak tanah yang dirampas oleh Belanda atau tingginya pajak tanah yang ditetapkan oleh pemerintah Hindia Belanda. Dalam sidang itu terpampang jelas, mulai terpecahnya Sarekat Islam ke dalam dua kubu.

Tjokroaminoto menghadapi keadaan itu dengan optimis. Ia paham bahwa Semaun dan Muso adalah pemuda cerdas yang memilih ideologi itu pasti dengan alasan yang jelas. Sejak saat itulah isu perbedaan ideologi makin meruak dan berakhir pada pecahnya Sarekat Islam menjadi Sarekat Islam Merah.

Tjokroaminoto yang dianggap semakin mesra dengan pemerintah di volksrad juga main diragukan geraknya dan dianggap lambat. “Revolusi”, jargon penyemangat bagi Sarekat Islam Merah yang begitu radikal diambil dari jargon Rusia yang berhasil menggulingkan penguasa yang ada disana.

Hal ini tentu mengundang kebencian dari pihak pemerintah Belanda. Pasukan pun dikerahkan untuk menangkap satu per satu pemimpin dari Sarekat Islam Merah dan membubarkan partai itu. Karena mengusung visi pemerataan (sosialis) dan gerak radikalnya maka Sarekat Islam Merah benar-benar dibubarkan.

Tjokroaminoto juga kerap ditangkap untuk dimintai keterangan terkait dengan tuduhan melakukan pergeran-pergerakan yang mengancam pemerintahan Hindia Belanda. Namun, seorang Tjokroaminoto adalah pendebat yang ulung.

Ketegasan dan kecerdikannya dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, membuat Belanda geram. Berpindah dari penjara satu ke penjara yang lain tidak membuat Tjokroaminoto jera memperjuangkan prinsip dan cita-citanya.

Gerak Tjokroaminoto yang selama ini dinilai lambat, adalah salah satu efek dari strateginya yang ingin menyusup ke pemerintahan dengan cara moderat. Perjuangan panjang itu mencapai hasilnya setelah Tjokroaminoto wafat, setelah tahun 1935, dimana Kusno (Seokarno) salah satu anak didik yang dulu sempat kos di kediamannya di rumah Peneleh memegang tampuk kekuasaannya,

Tjokroaminoto memilih jalan yang tanpa kekerasan namun ia tahu persis letak tujuannya. Ia memang memilih jalur moderat yang lebih mengutamakan jalur negosiasi daripada jalur kekerasan. Hasilnya memang tidak langsung bisa dipetik bahkan saat ia masih hidup. Keniscayaan menunjukkan bahwa strategi yang matang dalam pemikiran yang bijak tidak akan pernah usai.

Raga HOS Tjokroaminoto memang telah beristirahat dengan tenang, namun pemikiran dan semangatnya masih menggelora pada diri Soekarno, Semaun, hingga Kartosuwiryo. Seorang pakar sejarah ada yang menyebut bapak proklamator kita itu sebagai ‘modifikasi dari Pak Tjokro’. Karena memang, selama Soekarno di rumah Paneleh, ia kerap mencontoh gaya berorasi dari Tjokroaminoto.

Ketokohan Tjokroaminoto ini dapat dilihat dari keterbukaan dan kekritisan anak-anak kosnya dalam berpikir, yang dibuktikan dari bagaimana Semaun serta Kartosuwiryo berseberangan ideologi. Kartosuwiryo dianggap terlalu kanan karena ingin mendirikan negara Islam diatas nusantara ini, dan Semaun dianggap terlalu kiri karena mengambil paham sosialis demi menjunjung kesetaraan dan persamaan (tanpa berpaham komunis-ateis pada awalnya). Berbenturan ideologi ini memang sudah kerap dibawa dalam diskusi-diskusi di rumah Paneleh dengan penuh kecerdasan.

Sehingga mereka sadar bahwa kebebasan dalam berpikir dan memihak adalah hak setiap orang, namun perlu dilandasi dengan dasar yang jelas dan kuat. Pondasi itu adalah: semurni-murni tauhid, setinggi-tinggi ilmu dan, sepandai-pandai siasat.  [dn/is/iski]

Minggu, 04 November 2018

Ibnu Sina, Pahlawan dan Tokoh Kesehatan Islam



Ibnu Sina atau Avicenna merupakan seorang dokter, ilmuwan, filsuf sekaligus pahlawan. Ibnu Sina lahir pada abad ke-10 atau tepatnya pada tahun 340H/980 M di sebuah wilayah di Persia bernama Afsyana, Bukhara yang kini masuk wilayah negara Uzbekistan dan meninggal pada tahun 428H/1037 M di Hamadzan dalam usia 57 tahun.

Merujuk pada Majalah Barokah, Edisi IV/Mei 2010, hal 19-21, Ibnu Sina dilahirkan dengan nama lengkap Abu Ali Al-Husain ibn Abdullah ibn Sina. Pada masa remaja, Ibnu Sina sudah menghafal Al-Quran dan menguasai dasar-dasar ilmu fisika, metafisika, logika, dan kedokteran.

Bakatnya dibidang kesehatan terlihat ketika pada usianya ke-17 tahun, berhasil mengobati penyakit Khalifah Nuh ibn Al-Manshur (976-997), salah seorang penguasa Dinasti Samaniah. Padahal banyak tabib dan ahli pengobatan yang hidup pada masa itu tidak satupun yang sukses menyembuhkan penyakit sang khalifah. Berkat kepiawaiannya itulah, Ibnu Sina diberi kebebasan mengakses buku-buku literatur koleksi pribadi sang khalifah, dimana pada saat itu buku-buku yang memuat ilmu pengetahuan masih sangat langka sehingga jarang ditemukan. Koleksi buku sang khalifah disimpan dalam perpustakaan kerajaan yang kuno dan antik. Sebenarnya, Ibnu Sina juga diberi penghargaan tinggal di istana sang khalifah tetapi ditolaknya secara halus dan lebih memilih memperluas wawasannya melalui perpustakaan sang penguasa Dinasti Samaniah.

Ayahnya berasal dari Balkh Khorasan adalah seorang pegawai tinggi pada masa Dinasti Samaniah (204-395 H/819-1005 M). Ayah dari Ibnu Sina meninggal ketika ia baru berusia 22 tahun sehingga ia meninggalkan kota kelahirannya, Bukhara dan memilih mengembara menuntut ilmu menuju Jurjan, lalu ke Khawarazmi hingga menetap di Hamadzan (Iran). Di kota kecil Jurjan, Ibnu Sina bertemu dengan seorang sastrawan dan ulama besar Abu Raihan Al-Biruni dan berguru kepadanya. Kota selanjutnya Rayy dan Hamadzan, sambil mulai menulis sebuah buku yang terkenal Qanun fi Thib, sejak usia 22 tahun (1022 M) dan berakhir pada tahun wafatnya (1037 M).

Di bidang kedokteran ia mendapat julukan Pangeran Para Dokter dan Raja Obat. Banyak para pembesar negeri pada masa itu yang mengundangnya untuk memberikan pengobatan. Para pembesar negeri tersebut di antaranya Ratu Sayyidah serta Sultan Majdud dari Rayy, Syamsu Dawla dari Hamadzan, dan Alaud Dawla dari Isfahan. Karenanya dalam dunia Islam, ia dianggap sebagai puncah atau Bapak ilmu kedokteran

Karya Monumental

Puncak pemikiran Ibnu Sina berlangsung pada Abad Pertengahan (abad ke 10) ketika Eropa dilanda zaman kegelapan. Ibnu Sina mampu menemukan metode dan dasar argumentasi filsafat Islam dan menandingi pemikiran rasional tradisi intelektual Hellenisme Yunani. Kemahsyuran nama Ibnu Sina melintasi batas-batas negara dan agama dan tersebar di beberapa perpustakaan Barat dan Timur.

 Karya monumentalnya yang terkenal di kalangan ilmuwan Barat adalah Canon of Medicine (Aturan Pengobatan) atau dalam bahasa Arab Qanun fi Thib yang terbit pada tahun 1323 M di India dan tahun 1593 M di Roma. Buku ensiklopedia ini berisi jutaan item tentang pengobatan dan obat-obatan dan memperkenalkan penyembuhan secara sistematis, serta dijadikan rujukan selama tujuh abad lamanya. Buku inilah yang menobatkan Ibnu Sina sebagai Bapak Kedokteran Dunia.

 Ibnu Sina pertama kali mengungkap, mencatat dan menggambarkan anatomi tubuh manusia secara lengkap. Kemudian ia mengambil kesimpulan bahwa, setiap bagian tubuh manusia, dari ujung rambut hingga ujung kaki kuku saling berhubungan. Ibnu Sina juga adalah orang yang pertama kali merumuskan, bahwa kesehatan fisik dan kesehatan jiwa berkaitan erat dan saling mendukung. Dalam ilmu kedokteran kontemporer, Ibnu Sina sangat berjasa dalam bidang pathology dan farmasi, yang menjadi bagian penting dari ilmu kesehatan dan kedokteran. Melalui Al-Qanun fit-Thibb, Ibnu Sina sebagai orang pertama yang menemukan peredaran darah manusia, dimana enam ratus tahun kemudian disempurnakan oleh William Harvey. Ibnu Sina juga tercatat pertama kali mengatakan bahwa bayi selama masih dalam kandungan mengambil makanannya lewat tali pusarnya. Ibnu Sina juga banyak menemukan bahan nabati baru Zanthoxyllum budrunga - dimana tumbuh - tumbuhan banyak membantu terhadap beberapa penyakit tertentu seperti radang selaput otak (miningitis). Ibnu Sina yang pertama kali mempraktekkan pembedahan penyakit-penyakit bengkak yang ganas lalu menjahitnya. Ibnu Sina juga terkenal sebagai dokter ahli jiwa dengan cara - cara modern yang kini disebut psikoterapi.

 Buku lainnya yang banyak dirujuk para ilmuwan adalah karya filsafatnya yang dihimpun dalam buku berjudul “Asy-Syifa” yang membahas tentang fisika, metafisika, matematika dan logika, dalam bahasan Latin kitab ini dikenal dengan nama Sanati. Judul kitab karya Ibnu Sina ini mengulas cara-cara pengobatan sekaligus obatnya dan kini menjadi semacam ensiklopedia filosofi dunia kedokteran, terdiri dari 18 jilid. Buku tersebut dicetak lintas negara seperti di Roma pada tahun 1593 M dan di Mesir pada tahun 1331 M. Ringkasan kajian dalam Asy-Syifa juga dimuat dalam buku “An-Najat” khusus mengulas tentang fisika dan metafisika dan dicetak di sebuah percetakan batu di Teheran. Sementara bidang logika dimuat dalam buku “Al-Burhan” dan terbit pada tahun 1954 di Kairo.

Asy-Syifa, begitu judul kitab karya Ibnu Sina ini, sebuah kitab tentang cara-cara pengobatan sekaligus obatnya terdiri atas 18 jilid. Kitab ini di dunia ilmu kedokteran menjadi semacam ensiklopedia filosofi dunia kedokteran. Dalam bahasan latin, kitab ini di kenal dengan nama Sanatio, atau Sufficienta. Naskah selengkap buku As- Syifa (The Book of Recovery or The Book of Remedy = Buku tentang Penemuan, atau Buku tentang Penyembuhan) sekarang ini tersimpan di Oxford University London.

Mengingat pentingya karya Ibnu Sina, pemerintah Arab Saudi bekerjasama dengan pemerintah Mesir membentuk panitia penyunting “Ensiklopedia Asy-Syifa” pada tahun 1951. Sementara Bab ke-6 dari Kitab As-Syifa yang mengulas tentang landasan psikologi modern diterjemahkan dan diterbitkan oleh sebuah lembaga keilmuan di Praha dan juga diterjemahkan kedalam Bahasa Prancis. Sementara karya filsafat Ibnu SIna yang lain berjudul “Al-Isyarat wa al-Tanbihat” pernah diterbitkan di Kairo pada tahun 1947 dan di Leiden, Belanda pada tahun 1892.

Pemikiran Ibnu Sina banyak mempengaruhi para teolog dan pemikir Barat seperti Thomas Aquinas, Gundisalvus, Robert Grosseteste dan Roger Bacon. Aquinas dari Orde Dominikian diilhami pemikiran Ibnu Sina dalam perumusan kembali teologi Katolik Roma. Sedangkan Gundisalvus dalam karyanya “De Anima” sebagian besar isinya disalin dari pemikiran Ibnu Sina.

Sepanjang hidupnya Ibnu Sina menulis berbagai macam karya yang berkaitan dengan bidang yang diminatinya yang jumlahnya mencapai 250 karya, baik dalam bentuk buku maupun risalah. Buku ini berkaitan dengan bidang astronomi berjudul “Al-Magest” diantara berisi, bantahan terhadap pandangan Euclides, serta meragukan pandangan Aristoteles yang menyamakan bintang-bintang tak bergerak. Menurutnya, bintang-bintang yang tak bergerak tidak berada dalam satu globe.

Bagi Keluarga Besar Universitas Muslim Indonesia (UMI), Ibnu Sina selain sebagai tokoh pemikiran dan ilmuwan besar Islam, juga sebagai pahlawan kesehatan Islam. Kebesaran nama Ibnu Sina diabadikan oleh UMI Makassar pada sebuah Rumah Sakit yang berdiri megah di kawasan Panaikang, depan Kampus UMI. RS ini melayani pasien lintas agama, dan lintas sosial-ekonomi dengan diperbolehkannya pemegang jamkesmas untuk berobat di RS tersebut, disamping sebagai rumah sakit pendidikan.

 Fatmah Afrianty Gobel ( Kompasiana )

Jumat, 12 Oktober 2018

Mimpi Hasan Al Bashri



Antara Hasan Al-Bashri dan Ibnu Sirin ada rasa sentimen. Keduanya tidak mahu saling menyapa. Setiap kali mendengar orang lain menyambut nama Ibnu Sirin, Hasan Al-Bashri merasa tidak suka : "Jangan sebut nama orang yang berjalan dengan lagak sombong itu di hadapanku," katanya.

Pada suatu malam Hasan Al-Bashri bermimpi seolah-olah ia sedang bertelanjang di kandang binatang sambil membuat sebatang tongkat. Pagi hari ketika ia bangun, ia merasa bingung dengan mimpinya itu. Tiba-tiba ia ingat bahawa Ibnu Sirin yang kurang ia sukai adalah orang yang pandai menafsirkan mimpi.

Merasa malu bertemu sendiri, ia lalu meminta tolong seorang teman dekatnya: "Temui Ibnu Sirin, dan ceritakan mimpiku ini seakan-akan kamu sendiri yang mengalaminya," pesannya. Teman dekat Hasan Al-Bashri itu segera menemui Ibnu Sirin. Begitu selesai menceritakan isi mimpi tersebut, Ibnu Sirin langsung berkata:

"Bilang kepada orang yang mengalami mimpi ini, jangan menanyakannya kepada orang yang berjalan dengan lagak sombong. Kalau berani suruh ia datang sendiri kemari."

Mendengar laporan yang disampaikan temannya ini, Hasan Al-Bashri kesal. Ia bingung, dan merasa tercabar. Setelah berfikir sejenak, akhirnya ia memutuskan untuk bertemu langsung dengan Ibnu Sirin. Ia tidak peduli dengan rasa malu atau gengsi.

"Antarkan aku ke sana," katanya. Begitu melihat kedatangan Hasan Al-Bashri, Ibnu Sirin menyambutnya dengan baik. Setelah saling mengucap salam dan berjabat tangan, masing-masing lalu mengambil tempat duduk yang agak berjauhan.

"Sudahlah, kita tidak usah berbasa-basi. Langsung saja, aku bingung memikirkan dan menafsirkan sebuah mimpi," kata Hasan Al-Bashri.

"Jangan bingung," kata Ibnu Sirin." Telanjang dalam mimpimu itu adalah ketelanjangan dunia. Ertinya, engkau sama sekali tidak bergantung padanya kerana engkau memang orang yang zuhud. Kandang binatang adalah lambang dunia yang fana itu sendiri. Engkau telah melihat dengan jelas keadaan yang sebenarnya. Sedangkan sebatang tongkat yang engkau buat itu adalah lambang hikmah yang anda katakan, dan mendatangkan manfaat bagi ramai orang."

Sesaat Hasan Al-Bashri terkesima. Ia kagum pada kehebatan Ibnu Sirin sebagai ahli tafsir mimpi, dan percaya sekali pada penjelasannya.

"Tetapi bagaimana engkau tahu kalau aku yang mengalami mimpi itu?" tanya Hasan Al-Bashri.

"Ketika teman engkau menceritakan mimpi tersebut kepadaku, aku berfikir, menurutku, hanya engkau yang layak mengalaminya." jawab Ibnu Sirin.

Sumber : Kitab Wafyat al-A'yan oleh al-Shafadi (https://seribusatukisahislami.blogspot.com/2018/08/mimpi-hasan-al-bashri.html)



Minggu, 23 September 2018

UAS Disambut Hangat Di Raja Ampat Dan Sorong


SORONG, (Panjimas.com) — Tak seperti di daerah lain yang kerap mendapat ancaman dan intimidasi, kedatangan Ustadz Abdul Somad (UAS) disambut dengan antusias dan begitu ramah di Sorong, Papua Barat. Bahkan, Ketua MUI Papua Barat turut hadir dalam penyambutan UAS.

“Silaturahim itu mendatangkan keberkahan, kebaikan, kemaslahatan dan kemudahan rezeki. Alhamdulillah pada hari ini masyarakat Papua Barat khususnya Ummat Islam di Kota Sorong dan Kab. Raja Ampat mendapatkan kunjungan dan silaturahim dari salah satu Da’i Kondang asal Riau, Ust. Abdul Samad Batubara, LC., MA,” ujar Ustadz Ahmad Nausrau, Ketua MUI, Papua Barat, di Raja Ampat, Sabtu, (22/09).

Menurutnya, ‘Hafidzahullah’ yang nasehat dan tausiyahnya sangat menyejukkan, tegas dan penuh makna begitu ditunggu umat Muslim di Sorong. Ini terbukti dengan kedatangan UAS mendapatkan sambutan yang luar biasa dari masyarakat Papua Barat.

“Hal ini terlihat dari banyaknya masyarakat yang datang ke Bandara DEO Sorong untuk menjemput beliau. Bahkan disambut dengan tarian adat Papua,’’ tukasnya.

Ahmad Nasrau mengatakan, pihaknya sangat bersyukur kedatangan UAS di Papua Barat berjalan lancar. Situasinya pun kondusif.

“Alhamdulillah beberapa saat setelah tiba di Kapal cepat Express Belibis 8 yang akan mengantar kami ke Raja Ampat, ternyata Pak Kapolda Papua Barat Barat beserta lbu dan rombongan dari Mapolda Papua Barat serta Bupati Raja Ampat jug menumpang kapal yang sama. Kesempatan yang sangat baik ini kami manfaatkan untuk bersilaturahmi dan berpose bersama. Jadi suasananya sangat baik,’’ pungkasnya, dikutip dari ROL.

Sementara itu, Anggota MUI Papau Barat yang juga dosen Universitas Papua yang ada di Manokwari, Dr. Muyadi Djaya, mengatakan hal yang sama, Ia mengatakan kedatangan UAS disambut meriah.

‘’Hari ini memang rencananya UAS akan menggelar tausiyah di Raja Ampat, dan kami ini sudah tiba dengan berada di dermaga Raja Ampat setelah menyeberang dari kota Sorong. Besok akan balik kembali dari Raja Ampat ke Sorong untuk melanjutkan safari dakwah UAS di Papua Barat,’’ paparnya.

Seperti diketahui masyarakat Muslim itu sangat banyak di Papua Barat, termasuk di kota Sorong. Mereka hidup berdampingan dengan damai dengan umat beragama lain. Bahkan, sekolah dan universitas milik Perguruan Muhammadiyah mayoritas siswa dan mahasiswanya adalah beragama non Islam. Mereka tetap dapat belajar dengan tenang dan tak ada persoalan apa pun terkait soal beda keyakinan itu.

Selain itu, MUI Papua Barat setiap Ramadhan tiba menggelar acara safari dakwah keliling yang menjangkau seluruh pelosok wilayah Papua Barat. Mereka mengunjung berbagai tempat dan lokasi tempat tinggal umat Islam yang tersebar di daerah terpencil.

‘’Kegiatan safari dakwah MUI sudah dilakukan bertahun-tahun. Dan sekarang dengan adanya kedatangan UAS kami makin bersemanat,’’ ujar Mulyadi Djaya.[IZ]

via :  ARTIKEL

Senin, 21 Mei 2018

Tokoh-Tokoh Filsafat Islam




Dalam ilmu filsafat islam ada beberapa tokoh yang dianggap membawa pengaruh dan karya-karyanya dikenal oleh sebagian umat muslim saat ini. Beberapa tokoh tersebut antara lain

Al-Kindi

Al-Kindi atau  Abu Yusuf Ya’qub bin Ishak bin Ash-Shabah bin Imran bin Ismail bin Al-Asy’ats bin Qays Al-Kindi  dikenal sebagai sosok muslim pertama yang memunculkan gagasan tentang filsafat dan ia jugalah yang berpendapat bahwa ajaran agama islam sebenarnya tidak berbeda jauh dengan ilmu filsafat atau falsafah sehingga keduanya bukanlah dua hal yang bertentangan. Tidak hanya cerdas sebagai filsuf atau pemikir islam yang diakui oleh bangsa barat, Al kindi juga menghasilkan banyak karya dalam bidang ilmu pengetahuan lainnya seperti aritmatika dan musik


2. Al-Farabi

Al Farabi atau  Abū Nasir Muhammad bin al-Farakh al-Fārābi‘ adalah seorang tokoh ilmuwan sekaligus filsuf muslim yang  berusaha memadukan beberapa aliran filsafat antara lain aliran falsafah al taufiqhiyah yang berkembang sebelumnya dari hasil pe mikiran filsuf Yunani seperti Plato, Aristoteles, Plotinus.
Al farabi juga berpandapat bahwa pada hakikatnya filsafat itu mmeiliki satu tujuan yakni untuk mencari kebenaran dari suatu hal.


3. Ibnu Rusyd

Abu Walid Muhammad bin Rusyd atau yang dikenal dengan nama ibnu rusyid adalah salah satu tokoh ilmuwan muslim yang cukup dikenal. Ia juga merupakan salah seorang filsuf yang dikenal dnegan aliran rasionalnya. Sebagai seorang filsuf dan pemikir, Ibnu Rusyid menjunjung tinggi akal dan peranananya dalam kehidupan. Ibnu rusyid juga berpendapat bahwa akal fikiran bekerja dengan didasari oleh pengertian umum atau maj’ani kulliyah dandidalamnya tercakup hal-hal yang bersifat partial atau disebut juz’iyah.

4. Ibnu Sina

ibnu sina yang terkenal sebagai ilmuwan dalam bidnag kedokteran juga dikenal sebagai seorang sosok filsuf muslim. Ia berpendapat bahwa semua intelenji atau akal berasal dari Tuhan dan segala hal yang menyangkut dasar semua ilmu juga berasal dari Tuhan. Ibnu sina jugalah yang menyatakan bahwa esensi berada dalam akal dan  wujud  berada diluarakal. Ia juga banyak membahas mengenai    metafisika dan  filsafah tentang jiwa.

5. Al-Ghazali

Muhammad bin Ahmad, Al-Imamul Jalil, Abu Hamid Ath Thusi Al-Ghazali atau yang lebih dikenal sebagai Al Ghazali adalah salah seorang filsuf ternama yang berasal dari daerah Thusi yang merupakan bagian dari Negara Persia. Al ghazali banyak menghasilkan karya dibidang filsafat dan ia pada mulanya berpendapat bahwa ilmu pengetahuan sebenarnya tidak bisa ditangkan dengan menggunakan panca indera manusia. Al ghazali lebih cenderung percaya terhadap akal daripada kelima panca indera. Dizamannya, ia pernah menjadi guru besar di Nidzamiyah, Baghdad selama empat tahun.beberapa kitab karangan Al ghazali yang terkenal antara lain  Ihya Ulum Ad-Din,  Tahafut al-Falasifah dan Al-Munqidz min adh-Dhalal
Notification
This is just an example, you can fill it later with your own note.
Done